ADA PLANET MARS DI CHILE

15
Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Sebagian besar dari anda mungkin tidak akan memilih negara-negara di Amerika Selatan sebagai tujuan wisata, tapi apakah anda bisa menolak keunikan Pedro de Atacama? Jawabannya, mungkin belum tentu bisa! Dengan sensasi berlibur seperti di planet lain, keberadaan padang pasir di Amerika Selatan ini bagaikan sebuah anomali, keganjilan geologis yang sulit dicerna. Tapi keganjilan itu pula yang membuat Atacama begitu terkenal. Gurun yang mayoritas teritorinya berada di Chile ini memiliki luas 105.000 kilometer persegi, hampir sebesar Pulau Jawa. Atacama dijuluki tempat terkering yang dihuni manusia, karena curah hujannya hanya satu milimeter per tahun, dengan frekuensi hanya empat tahun sekali.

San Pedro de Atacama, kota kecil berpopulasi sekitar 5 ribu orang, adalah pusat utama wisatawan yang ingin menikmati lanskap unik di sekitar Atacama. Tempat ini dibelah jalan-jalan yang dilapisi pasir, tanpa aspal sedikit pun. Angin yang menerbangkan butiran-butiran pasir akan membuat sensasi seolah sedang berada di Timur Tengah. Bedanya, kalau di Timur Tengah, orang-orang akan berpakaian tertutup sedangkan di tempat ini, orang-orang biasa berpakaian terbuka. Layaknya kota-kota di Chile, pusat kota San Pedro de Atacama dihuni alun-alun. Namanya Plaza de Armas. Di kaki pohon-pohon rindang di sekelilingnya, orang-orang berteduh dari sengatan matahari musim panas.

Alun-alun adalah sebuah kawasan yang menampung banyak kegiatan, dari belanja hingga ibadah. Salah satu ikonnya, Gereja San Pedro, menampilkan stuktur berparas putih yang dibuat dari adobe, semacam batu bata berbahan campuran tanah liat dan pasir. Penyangganya kayu kaktus cordon yang diikat dengan tali kulit sebagai pengganti paku. Dekat dengan bangunan itu, anda akan disambut panorama Gunung Lincancabur di kejauhan. Dimensinya memang tidak spesial, hanya berbentuk segitiga sama kali kaki dengan tinggi hampir 6000 meter. Tapi di puncaknya tersaji sebuah anomali Chile yang lain, yaitu salju! Jangan heran saat melihat pemandangan yang sangat kontras. Ibarat melihat es batu di atas tungku, begitulah rasanya saat melihat gurun gersang kecoklatan bersanding serasi dengan pegunungan bersalju.

Tak jauh dari Plaza de Armas, ada museum Padre Le Paige yang memajang banyak artefak, sperti keramik, tekstil, dan mumi. Benda-benda ini tidak dikumpulkan oleh tim arkeolog, melainkan seorang pastor Jesuit asal Belgia bernama Gustavo Le Paige, yang mengabdi di San Pedro pada 1955. Di samping museum terdapat Paseo Artesenal, gang kecil berisi toko-toko suvenir yang menjual kerajinan tangan lokal, salah satunya pakaian berbahan bulu alpaca, semacam unta versi Amerika Selatan.

Gurun Atacama juga memiliki daya tarik lainnya, yaitu sebuah patung tangan raksasa. Dalam bahasa setempat disebut La Mano del Desierto. Patung ini meyerupai sepotong tangan raksasa yang terkubur dalam tanah. Patung ini merupakan karya pematung Chile, Mario Irarrazabal. Patung ini pertama kali dipamerkan untuk umum pada Maret tahun 1992. Patung tangan setinggi 10 meter ini menggambarkan kerentanan manusia dan ketidakberdayaannya.

Jika anda sempat berkendara ke arah Barat, anda akan menjumpai lanskap yang janggal bernama Valle de la Muerte, artinya Lembah Kematian. Warna tanahnya kemerahan. Sejarah menyebutkan bahwa Pastor Gustavo Le Paige terkesima oleh warna lembah hingga menamainya “Valle del Marte”, artinya Lembah Mars. Namun warga setempat mengira dia mengucapkan “Valle de lau Muerte”. Terlepas dari kesimpangsiuran asal mula namanya, yang pasti lembah ini seperti berasal dari dunia lain. Berkat karakternya yang ekstraterestrial seperti Mars, Valle de la Muerte pernah dijadikan wadah latihan staff NASA dan juga lokasi untuk syuting film.

Please follow and like us: